By mety6111 - 09 March 2026 | 20:58 WIB | 19 Views
Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan pangan nasional, khususnya beras, dalam kondisi aman dan terkendali di tengah dinamika geopolitik global serta potensi fenomena iklim seperti El Niño yang berpotensi memicu kekeringan.
Berdasarkan data per Maret 2026, total stok beras nasional dipastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga sekitar 324 hari atau sekitar 10,8 bulan ke depan.
“Ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Amran di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Amran menjelaskan, total ketersediaan beras nasional saat ini mencapai 27,99 juta ton. Jumlah tersebut terdiri dari stok beras yang dikelola Perum BULOG sebesar 3,76 juta ton, stok yang berada di masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta potensi produksi dari standing crop atau padi yang siap panen sebesar 11,73 juta ton.
Selain itu, produksi beras nasional juga menunjukkan tren positif. Pada periode Januari hingga Mei 2026, produksi beras diperkirakan mencapai sekitar 16,92 juta ton, dengan rata-rata produksi bulanan berkisar antara 2,6 juta hingga 5,7 juta ton.
Jumlah tersebut dinilai mampu melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada pada kisaran 2,59 juta ton per bulan.
“Tiap bulan kita produksi 2,6 hingga 5,7 juta ton, sedangkan kebutuhan kita sekitar 2,59 juta ton per bulan. Jadi pangan aman,” jelas Amran.
Seiring meningkatnya produksi, stok beras pemerintah yang dikelola BULOG juga terus mengalami peningkatan. Saat ini stok BULOG berada di kisaran 3,7 juta ton dan diproyeksikan akan meningkat hingga 5 juta ton dalam dua bulan ke depan, seiring masuknya hasil panen raya di berbagai daerah.
“Kita perkirakan dalam dua bulan ke depan stok BULOG bisa mencapai 5 juta ton. Ini akan semakin memperkuat cadangan pangan pemerintah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mentan juga menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi potensi kekeringan akibat fenomena iklim.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah program pompanisasi untuk mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian. Program ini sebelumnya telah diterapkan pada 1,2 juta hektare lahan dan akan diperluas lagi pada 1 juta hektare lahan tambahan.
“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” ujarnya.
Pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk dalam kondisi aman dengan harga yang mengalami penurunan sekitar 20 persen, sehingga diharapkan dapat mendorong semangat petani untuk terus meningkatkan produksi.
Selain itu, optimalisasi lahan rawa yang telah direhabilitasi juga menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga produksi padi, terutama saat musim kering ketika pasokan air di sejumlah wilayah berkurang.
“Insyaallah pangan kita aman. Produksi kuat, stok cukup, dan berbagai langkah antisipasi sudah kita lakukan,” pungkas Amran.
Ketika Al-Qur’an Bicara Tentang Kesehatan Oleh : Dede Farhan Aulawi…
Monitoring Social Media Analytics dalam Mengantisipasi Potensi Ancaman Keamanan Oleh…
Sistem Pengamanan Data dan Informasi Intelijen Oleh : Dede Farhan…
Tantangan Tugas dalam Penyelidikan dan Penyidikan Kejahatan Oleh : Dede…
OPTIMALISASI PERAN DAN FUNGSI BINMAS POLRI DALAM MENJAGA KAMTIBMAS Oleh…
Krisis Ketidakmampuan Tata Kelola dan Pemberdayaan Potensi SKA Daerah oleh…