By mety6111 - 01 May 2026 | 07:51 WIB | 10 Views
JAKARTA – Kehadiran Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Buruh Internasional di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jumat (1/5/2026), bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Di hadapan sekitar 400 ribu buruh yang memadati ruang publik ibu kota, negara kembali menegaskan posisinya: berdiri bersama rakyat pekerja—setidaknya dalam narasi.
Sejak pagi, lautan manusia dari berbagai daerah berkumpul membawa satu pesan klasik yang terus berulang setiap tahun: keadilan kerja, kepastian upah, dan perlindungan dari ketidakpastian ekonomi. Sorak sorai yang menyambut Presiden mencerminkan harapan, tetapi juga menyimpan pertanyaan—sejauh mana harapan itu benar-benar terjawab?
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan komitmen untuk membela kepentingan rakyat, khususnya mereka yang masih hidup dalam kesulitan. Pernyataan “tidak akan gentar” menjadi penegasan politik bahwa pemerintah ingin dilihat sebagai pelindung kelompok rentan.
Namun, di titik inilah politik mulai berbicara lebih dalam.
May Day bukan hanya panggung solidaritas, tetapi juga arena kontestasi makna. Di satu sisi, negara hadir membawa janji dan legitimasi. Di sisi lain, buruh hadir membawa pengalaman konkret—upah yang stagnan, ancaman PHK, hingga praktik outsourcing yang belum sepenuhnya berpihak.
Pidato Presiden yang menekankan keberpihakan pada rakyat memperlihatkan arah politik pemerintahan saat ini: membangun citra populis yang berpijak pada kedekatan dengan kelompok pekerja. Dukungan buruh, petani, dan nelayan disebut sebagai fondasi kekuatan politik. Ini bukan sekadar retorika, melainkan sinyal bahwa basis legitimasi kekuasaan sedang dikonsolidasikan.
Pertanyaannya, apakah komitmen tersebut akan terwujud dalam kebijakan yang konkret dan konsisten?
Momentum Hari Buruh 2026 seharusnya menjadi lebih dari sekadar simbol kehadiran negara. Ia adalah ujian: apakah negara mampu mentransformasikan janji menjadi perlindungan nyata, atau justru berhenti pada panggung retorika tahunan.
Di tengah gemuruh Monas, satu hal menjadi jelas—buruh tidak hanya butuh didengar, tetapi juga diperjuangkan secara nyata.
Dan di situlah, sejarah akan mencatat: apakah negara benar-benar berdiri di sisi mereka, atau hanya hadir untuk memastikan bahwa suara itu tetap terkendali.
Daftar Media Luar Negeri yang Bisa Menerima Asosiate Journalist Indonesia…
Pentingnya Berafiliasi sebagai Kontributor Berita di Media Luar Negeri Oleh…
Mencari Sumber Pendapatan Jurnalis Media Online di Tengah Gelombang Disrupsi…
Desain Manajemen Transportasi Cerdas, Aman, dan Ramah Lingkungan Oleh :…
Desain Infrastruktur Ramah Lingkungan dan Berwawasan Masa Depan Oleh :…
Strategi Peningkatan Daya Saing pada Industri Konstruksi Oleh : Dede…