By mety6111 - 28 April 2026 | 09:49 WIB | 24 Views
JAKARTA – Pelantikan Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup bukan sekadar pengisian jabatan teknis. Di balik itu, tersimpan beban besar: menyelesaikan persoalan klasik yang tak kunjung tuntas—sampah.
Dalam pernyataan perdananya, Jumhur langsung menyinggung isu yang paling dekat dengan realitas publik. Sampah, menurutnya, adalah persoalan konkret yang harus segera dibenahi, seiring dorongan untuk menyesuaikan standar pengelolaan dengan komitmen global.
Pernyataan ini terdengar normatif. Hampir semua pejabat lingkungan berbicara hal serupa. Yang membedakan adalah eksekusi—dan di titik inilah publik biasanya mulai skeptis.
Jumhur juga menyinggung komitmen kuat Presiden Prabowo Subianto terhadap isu lingkungan. Ini penting, karena tanpa dukungan politik di level tertinggi, kebijakan lingkungan sering kali kalah oleh kepentingan ekonomi dan pragmatisme pembangunan.
Namun, persoalan lingkungan—terutama sampah—bukan sekadar isu teknis atau regulasi. Ia adalah persoalan budaya, kebiasaan, bahkan mentalitas kolektif. Ajakan Jumhur untuk menjadikan kesadaran lingkungan sebagai “habit of heart” terdengar ideal, tetapi juga menunjukkan bahwa pekerjaan ini tidak akan selesai dalam waktu singkat.
Jakarta – Mencermati kondisi sosial-politik yang mulai sedikit memanas, Profesional…
KUBU RAYA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meninjau langsung…
Jakarta — Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman…
Hal Krusial dalam Keselamatan Pelayaran di Laut Indonesia Oleh :…
Strategi Pengamanan dan Perlindungan SDA Laut Indonesia Oleh : Dede…
Pentingnya Menjaga Ketertiban dalam Pemanfaatan Ruang Laut Oleh : Dede…