By mety6111 - 05 April 2026 | 06:05 WIB | 10 Views
Jakarta, 5 April 2026 – Wacana evaluasi keterlibatan Indonesia dalam misi penjaga perdamaian di Lebanon menguat setelah tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) dilaporkan gugur dalam insiden serangan di wilayah konflik yang melibatkan Israel dan kelompok Hizbullah.
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai situasi keamanan di area penugasan pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) kini telah berubah secara signifikan, dari zona pengawasan menjadi kawasan dengan intensitas pertempuran tinggi. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko keselamatan personel penjaga perdamaian yang pada dasarnya tidak dipersiapkan untuk operasi tempur bersenjata berat.
SBY menyampaikan keprihatinan mendalam atas gugurnya Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon. Ia menegaskan bahwa pengorbanan prajurit Indonesia dalam misi internasional merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap stabilitas global, namun tetap harus diimbangi dengan jaminan keamanan yang memadai.
Ia mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan peninjauan serius terhadap mekanisme penugasan UNIFIL, termasuk kemungkinan relokasi pasukan dari area yang kini berada di garis konflik aktif. Menurutnya, perubahan dinamika lapangan menuntut respons cepat agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
SBY juga menyatakan dukungannya terhadap sikap Presiden Prabowo Subianto yang meminta investigasi komprehensif atas insiden tersebut. Transparansi dinilai penting guna memastikan kronologi peristiwa dapat dipahami secara objektif serta menjadi dasar pengambilan kebijakan lanjutan.
Pengalaman SBY sebagai bagian dari misi PBB di Bosnia pada pertengahan 1990-an turut menjadi referensi bahwa investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata merupakan prosedur yang lazim dilakukan dalam operasi penjaga perdamaian. Ia menekankan pentingnya standar yang adil dan konsisten dalam setiap penanganan kasus yang melibatkan personel internasional.
Indonesia sendiri telah lama berpartisipasi dalam UNIFIL melalui pengiriman Kontingen Garuda sejak 2006. Selama hampir dua dekade, kontribusi tersebut menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam mendukung penyelesaian konflik secara damai di berbagai belahan dunia.
Di tengah situasi yang berkembang, SBY mengajak seluruh pihak untuk terus memperjuangkan keselamatan prajurit yang tengah menjalankan tugas, sekaligus memastikan peran Indonesia dalam misi perdamaian tetap selaras dengan prinsip perlindungan personel di lapangan.
Oleh : Dede Farhan Aulawi Ketika perilaku koruptif tidak lagi…
Oleh : Dede Farhan Aulawi Silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial…
Oleh : Dede Farhan Aulawi Demokrasi kapitalis kerap dipromosikan sebagai…
Oleh : Dede Farhan Aulawi Ruang fikir adalah anugerah paling…
Oleh : Dede Farhan Aulawi Dalam dinamika kekuasaan, loyalitas politik…
Jakarta — Instruksi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto agar pasukan…