By mety6111 - 06 April 2026 | 03:03 WIB | 10 Views
WASHINGTON, D.C. — Pada masa jabatan keduanya, Donald Trump kembali menempatkan kebijakan tarif di pusat panggung politik ekonominya. Namun di balik kepercayaan dirinya, sejumlah analis menilai bahwa langkah tersebut tidak hanya impulsif, tetapi juga berpotensi melumpuhkan perekonomian Amerika Serikat hingga memicu guncangan global.
Analis politik Heather Digby Parton menilai bahwa Trump kini memasuki fase baru yang jauh lebih agresif dibandingkan masa jabatan pertamanya. Menurutnya, presiden AS tersebut tidak hanya bersikeras mempertahankan kebijakan tarif, tetapi juga menggunakan instrumen ekonomi itu sebagai alat politik—baik untuk menghukum negara yang mengkritiknya maupun memberi keuntungan bagi mereka yang berada dalam orbit kekuasaan.
Parton menyebut bahwa kebijakan tarif Trump kini tidak lagi sekadar perdebatan teknis terkait perdagangan, melainkan telah menjelma menjadi mekanisme “hukuman” dan “ganjaran” yang sangat personal. Dalam beberapa kasus, kebijakan tersebut dikaitkan dengan kepentingan para kroni politik yang disebut mendapatkan keuntungan dari dinamika pasar berbasis rumor—termasuk spekulasi terkait konflik AS–Israel di Iran.
Bahkan, menurut laporan sejumlah analis pasar, perdagangan berbasis informasi yang diduga “insider” terus meningkat selama eskalasi konflik tersebut. Keadaan ini menciptakan pola yang oleh Parton disebut sebagai “TACO dynamic”—kombinasi antara tarif, konflik, dan oportunisme finansial.
Masalah tidak berhenti di level politik. Dampak langsung kebijakan tarif Trump menciptakan kondisi ekonomi yang digambarkan sebagai “suspended animation”—semacam hibernasi nasional akibat ketidakpastian berkepanjangan.
Akar persoalannya, menurut Parton, adalah pemahaman Trump yang keliru mengenai konsep defisit perdagangan. Trump dianggap menyamakan defisit perdagangan dengan defisit anggaran negara, lalu menyimpulkan bahwa jika suatu negara mengekspor barang ke AS, mereka wajib membeli barang dengan nilai yang sama dari Amerika.
Pendekatan yang tidak selaras dengan mekanisme perdagangan internasional modern itu menimbulkan konsekuensi besar ketika kebijakan tarif diumumkan ulang pada periode kedua Trump.
Pengumuman tarif baru itu langsung memicu kepanikan global. Dalam dua hari perdagangan:
Gejolak tersebut tidak terbatas pada saham. Harga minyak, emas, hingga dolar ikut melemah—sebuah sinyal kuat bahwa pelaku pasar merespons kebijakan tarif Trump bukan sebagai strategi ekonomi jangka panjang, melainkan sebagai langkah politik yang tidak memiliki basis perhitungan matang.
Respon investor ini disebut sebagai refleksi ketidakpercayaan terhadap kemampuan Washington menjaga stabilitas ekonomi global di tengah dinamika geopolitik yang memanas.
Yang membuat analis semakin khawatir adalah keyakinan Trump yang tidak tergoyahkan. Parton menegaskan bahwa Trump telah memegang pandangan yang sama tentang tarif selama lebih dari 40 tahun—dan hingga kini tidak ada data, logika, atau peringatan pasar yang mampu mengubahnya.
Hal ini berpotensi membuat periode kedua Trump dipenuhi risiko ekonomi yang sulit diprediksi, terutama jika kebijakan tarif kembali menjadi poros utama kekuasaan.
Oleh : Dede Farhan Aulawi Ketika perilaku koruptif tidak lagi…
Oleh : Dede Farhan Aulawi Silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial…
Oleh : Dede Farhan Aulawi Demokrasi kapitalis kerap dipromosikan sebagai…
Oleh : Dede Farhan Aulawi Ruang fikir adalah anugerah paling…
Oleh : Dede Farhan Aulawi Dalam dinamika kekuasaan, loyalitas politik…
Jakarta — Instruksi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto agar pasukan…