By mety6111 - 07 February 2026 | 02:52 WIB | 9 Views
LEBAK – Peserta Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) melanjutkan rangkaian kegiatan dengan menelusuri jejak sejarah Eduard Douwes Dekker—yang dikenal dengan nama pena Multatuli—melalui kunjungan edukatif ke Museum Multatuli di Kabupaten Lebak, Banten.
Ratusan insan pers dari SMSI dan berbagai daerah hadir dalam kegiatan tersebut. Rombongan dipimpin Sekretaris Jenderal SMSI Pusat, Makali Kumar, didampingi Dewan Penasihat SMSI Pusat Moh Nasir serta Ketua SMSI Provinsi Banten Lesman Bangun. Kedatangan mereka disambut Pemerintah Kabupaten Lebak yang diwakili Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) melalui perwakilannya, Sehabudin.
Makali Kumar menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari agenda literasi sejarah dalam rangkaian HPN 2026. Kegiatan tersebut bertujuan memperkaya wawasan insan pers terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberpihakan pada kebenaran—prinsip yang selaras dengan praktik jurnalistik profesional.
Menurutnya, Lebak menyimpan jejak sejarah penting melalui perjuangan intelektual Multatuli yang dituangkan lewat tulisan. Ia menilai semangat melawan monopoli, kapitalisasi berlebihan, dan penindasan yang tercermin dalam karya sastra Multatuli relevan bagi insan pers saat ini.
Multatuli, kata Makali, merupakan nama pena Eduard Douwes Dekker, seorang warga Belanda yang pernah bertugas sebagai Asisten Residen Banten pada 1856. Ia mengundurkan diri karena menolak praktik penindasan terhadap masyarakat pribumi. Pengalamannya kemudian dituangkan dalam buku Max Havelaar yang terbit pada 1860 dan menggugah perhatian dunia internasional terhadap ketidakadilan kolonial.
“Meski bukan orang Indonesia, Multatuli berani menyuarakan perlawanan terhadap monopoli dan ketidakadilan. Semangat itu patut terus dihidupkan dalam HPN 2026 demi pers sehat, ekonomi berdaulat, dan bangsa kuat,” ujarnya.
Sebelum memasuki museum, peserta juga menerima pemaparan mengenai sejarah dan perjalanan SMSI sebagai organisasi media siber nasional. Selanjutnya, rombongan mengikuti penyambutan resmi dari Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kabupaten Lebak.
Di dalam museum, peserta menelusuri ruang pamer yang menampilkan arsip sejarah kolonial, ilustrasi, dokumen, serta diorama sosial-politik masa penjajahan. Kunjungan dipandu Kepala Subbagian Tata Usaha Museum Multatuli, Lia Havila, yang menjelaskan perjalanan hidup serta gagasan kritis Multatuli.
Menurut Lia, karya monumental Max Havelaar membuka mata dunia terhadap penderitaan rakyat akibat sistem tanam paksa di Hindia Belanda dan menjadi simbol perlawanan moral terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang.
“Nilai-nilai yang diperjuangkan Multatuli sangat relevan dengan semangat pers, yaitu menyuarakan kebenaran, membela kemanusiaan, dan mengkritisi ketidakadilan,” jelasnya.
Berbagai artefak yang dipamerkan—mulai dari dokumen sejarah hingga ilustrasi kehidupan masyarakat masa kolonial—menjadi narasi panjang perjuangan melawan penindasan. Para peserta tampak antusias menyimak penjelasan sekaligus merefleksikan peran pers sebagai kontrol sosial.
Kunjungan ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian HPN 2026 SMSI. Selain memperkaya perspektif sejarah, kegiatan tersebut diharapkan memperkuat komitmen insan pers untuk menjalankan tugas secara kritis, berimbang, dan bertanggung jawab demi kepentingan publik.
BEKASI – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto meninjau langsung kondisi…
JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membantah isu yang…
ABU DHABI – Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Persatuan…