By mety6111 - 28 April 2026 | 09:49 WIB | 16 Views
JAKARTA – Pelantikan Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup bukan sekadar pengisian jabatan teknis. Di balik itu, tersimpan beban besar: menyelesaikan persoalan klasik yang tak kunjung tuntas—sampah.
Dalam pernyataan perdananya, Jumhur langsung menyinggung isu yang paling dekat dengan realitas publik. Sampah, menurutnya, adalah persoalan konkret yang harus segera dibenahi, seiring dorongan untuk menyesuaikan standar pengelolaan dengan komitmen global.
Pernyataan ini terdengar normatif. Hampir semua pejabat lingkungan berbicara hal serupa. Yang membedakan adalah eksekusi—dan di titik inilah publik biasanya mulai skeptis.
Jumhur juga menyinggung komitmen kuat Presiden Prabowo Subianto terhadap isu lingkungan. Ini penting, karena tanpa dukungan politik di level tertinggi, kebijakan lingkungan sering kali kalah oleh kepentingan ekonomi dan pragmatisme pembangunan.
Namun, persoalan lingkungan—terutama sampah—bukan sekadar isu teknis atau regulasi. Ia adalah persoalan budaya, kebiasaan, bahkan mentalitas kolektif. Ajakan Jumhur untuk menjadikan kesadaran lingkungan sebagai “habit of heart” terdengar ideal, tetapi juga menunjukkan bahwa pekerjaan ini tidak akan selesai dalam waktu singkat.
Prospektus Stablecoin bagi Masa Depan Mata Uang Digital Oleh :…
Mungkinkah Gempa Doublet Venezuela Merembet ke Indonesia? Oleh : Dede…
Pandangan Richard Wolff terkait Hak Rakyat dalam Pemilu Liberal Oleh…
Jika Sedang di Ujung Lelah, ISTIRAHAT-LAH Oleh : Dede Farhan…
Penemuan Planet Bumi Baru Berdasarkan Teleskop Antariksa James Webb Oleh…
Keadilan Sosial dan Sisa Keserakahan Kaum Modal Oleh : Dede…