By mety6111 - 02 February 2026 | 15:34 WIB | 96 Views
Oleh : Indra Safitri*)
Kaget, takut dan mungkin juga malu jika pada Mei 2026 pasar modal kita diberi label frontier market. Ini artinya mimpi buruk benar-benar terjadi. Apa lagi kalau sampai ada negara tetangga bisa naik kelas. Duh malunya makin menjadi-jadi.
Pertanyaannya mengapa banyak orang seperti kaget? Bukankah sehari-hari kita bisa lihat bagaimana pasar bergerak penuh anomali?
Kegeraman investor asing seperti MSCI juga sudah banyak yang tahu. Karena beberapa saham emiten Indonesia yang ada didalam portofolionya ada beberapa yang nyangkut. Sukuk salah satu BUMN karya yang default. Kemudian soal kebijakan free float dan terakhir “ancaman” mau menurunkan status ke frontier market.
Mundurnya beberapa pihak tidak akan menyelesaikan masalah. Begitu juga dengan rencana aksi dan turunnya tangannya Danantara untuk memberikan dukungan moril serta rencana positif lainnya. Jangka pendek bolehlah. Jadi pasar akan tertahan. Namun yang harus dilihat itu adalah akar masalahnya; apa dan siapa yang mampu untuk mengeksekusinya sehingga pasar “merasakan” perubahan positif dan nyata bukan lagi janji. Apa lagi rencana muluk yang sudah ditancapkan kedalam road map berulang kali.
Sampai hari ini secara terbuka para pengambil keputusan di pasar keuangan kita tidak pernah mengisyaratkan kalau mereka menganggap anomali. Padahal beberapa saham emiten yang tercium “bau busuk” selama ini tidak ada indikasi dicurigai sebagai salah satu masalah.
Rencana aksi yang normative tinggalkanlah. Kita sudah jenuh mendengarkan corong kebijakan yang tidak menyentuh orang yang ada di belakang layer praktek yang bikin MSCI gerah tersebut.
Tapi saya dapat merasakan dunia begitu lambat berputar lambat oleh teman-teman yang ada di SRO ketika semua tindakan dan rencana mereka harus di setujui oleh otoritas diatasnya yang juga punya sistem yang juga perlu kesabaran tersendiri. Kompleksitas persoalan pasar modal bukan hanya terletak soal bagaimana menghabisi “bandar” atau “tukang goreng saham”, namun mengapa sistem yang terbangun untuk mengendalikan dampak sistemik yang merugikan publik tidak berjalan secara efektif.
Sederet undang-undang dan peraturan pasar sudah dikeluarkan. Teknologi juga sudah dimaksimalkan. Tata kelola agar owner (pemilik) tidak cawe-cawe juga sudah didorong-dorong. Otoritas sudah independent. Bursa juga sudah punya sistem yang mandiri dan mahal. Orang-orang yang duduk di setiap bagian sistem pasar berasal dari semua kepentingan; mantan pejabat, pengendali, profesi senior belum lagi jabatan di sub system pasar, komplit lengkap kap..kap.
Setelah gonjang ganjing ini banyak yang mau menolong pasar modal. Misalnya pernyataan dari bos-bos Danantara, walapun paradoks. Kalau mau membenahi pasar modal dan melindungi investor, benahi BUMN yang saham atau obligasinya yang jeblok.
Kalau mau go public pastikan BUMN yang sehat dan royal memberikan deviden sudah cukup. Jangan tabuh genderang yang nadanya nggak ada kepentingan investor secara langsung.
Ah sudahlah kita tunggu saja…. semakin banyak menulis semakin dianggap nyinyir dan sok tahu.
*) Seorang Arbiter, Pengamat Pasar Modal & Founder Safitri & Co.
BEKASI – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto meninjau langsung kondisi…
JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membantah isu yang…
ABU DHABI – Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Persatuan…