By mety6111 - 11 February 2026 | 13:47 WIB | 92 Views
JAKARTA — Universitas Nasional (UNAS) Jakarta mengukuhkan Dr. Fadli Zon, M.Sc. sebagai Profesor Kehormatan (Prof. Hon) dalam sidang akademik yang digelar di Gedung Auditorium UNAS, Rabu (11/2/2026).
Pengukuhan ini menjadi tonggak baru dalam perjalanan intelektual Fadli Zon—figur yang dikenal luas sebagai mantan aktivis mahasiswa era reformasi, politisi, sekaligus sosok yang kerap menyuarakan pandangan kritis di ruang publik.
Di tengah apresiasi atas pencapaian tersebut, pernyataan menarik datang dari Ahmad Kailani, mantan Ketua Umum Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS) periode 1996–1997.
“Selamat buat Bung Prof. Dr. Fadli Zon, M.Sc. atas anugerah terindahnya dikukuhkan dan dikokohkan dengan gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Nasional (UNAS),” ujar Kailani.
Namun bagi Kailani, pengukuhan ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia melihatnya sebagai simbol perjalanan panjang seorang aktivis yang bertransformasi menjadi politisi dan kini mendapat legitimasi akademik.
Kailani menyinggung reputasi UNAS sebagai kampus yang sejak lama dikenal sebagai ruang tumbuhnya aktivis-aktivis kritis. Ia menyebut UNAS bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, tetapi juga ruang dialektika gagasan yang “keras” dan tajam.
“Mengenal Fadli sejak jadi aktivis dan mengenal UNAS sebagai ‘kampusnya’ para aktivis garis keras menunjukkan bahwa pengukuhan ini bukan tanpa makna. Ini adalah bentuk pengakuan atas jejak panjang dedikasi dan konsistensinya, baik sebagai aktivis maupun sebagai politisi yang tetap membawa warna intelektual,” katanya.
Menurut Kailani, UNAS merepresentasikan perpaduan antara dunia akademik dan tradisi aktivisme kritis. Karena itu, pemberian gelar Profesor Kehormatan kepada Fadli Zon dinilainya memiliki dimensi historis sekaligus simbolik—seolah menandai satu fase metamorfosis generasi aktivis 1990-an yang kini berada dalam lingkar kekuasaan dan kebijakan publik.
Ia juga menyampaikan harapan yang bernuansa reflektif.
“Semoga semakin tinggi gelar, semakin mampu mengejawantahkan apa yang dulu dikritik saat aktivis,” ujarnya.
Bagi Kailani, gelar akademik bukan hanya pengakuan atas capaian, tetapi juga pengingat moral. Seorang profesor kehormatan, menurutnya, memikul tanggung jawab intelektual dan etis yang lebih besar—untuk tetap berpijak pada nilai-nilai kritis, keberanian bersuara, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Pengukuhan ini pun menjadi perbincangan tersendiri tentang bagaimana idealisme aktivisme bertransformasi dalam ruang politik dan kini mendapat legitimasi akademik. Sebuah perjalanan panjang yang tak sekadar personal, tetapi juga merefleksikan dinamika generasi dan zaman.
BEKASI – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto meninjau langsung kondisi…
JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membantah isu yang…
ABU DHABI – Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Persatuan…