By mety6111 - 24 January 2026 | 05:52 WIB | 41 Views
Oleh Satrio Arismunandar
Setelah lebih dari dua tahun berlalu, identitas seorang pria Israel yang didakwa menyamar sebagai perwira Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada hari-hari awal perang akhirnya diperbolehkan untuk dipublikasikan. Ia dituduh secara ilegal memperoleh serta menyebarkan informasi rahasia negara.
Pria tersebut bernama Assaf Shmuelevitz. Publikasi namanya dilakukan setelah adanya permintaan hukum untuk membuka detail lebih lanjut mengenai kasus ini, sebagaimana diajukan oleh situs berita Ynet.
Sebelumnya, tim kuasa hukum Shmuelevitz sempat mengajukan banding ke Mahkamah Agung guna menentang keputusan Pengadilan Negeri Beersheba yang mengizinkan publikasi identitas klien mereka. Namun, upaya tersebut akhirnya ditolak.
Berdasarkan dakwaan yang diajukan pada November 2023, Shmuelevitz dilaporkan tiba di wilayah Israel selatan pada pagi hari 7 Oktober 2023, tidak lama setelah serangan Hamas. Ia kemudian bergabung dengan pasukan IDF dengan berpura-pura sebagai perwira cadangan berpangkat kapten, meskipun faktanya ia tidak pernah menerima panggilan tugas cadangan.
Dalam dakwaan disebutkan bahwa Shmuelevitz berhasil memasuki ruang operasi dan merekam percakapan-percakapan rahasia di Markas Komando Selatan. Sebagian informasi tersebut kemudian dibagikannya kepada warga sipil maupun personel militer yang tidak memiliki otorisasi untuk mengaksesnya.
Atas perbuatannya, ia didakwa dengan sejumlah pelanggaran, antara lain memperoleh keuntungan secara curang dalam kondisi yang memberatkan, membocorkan informasi rahasia, menyimpan informasi rahasia tanpa izin, serta memasuki wilayah militer secara ilegal.
Menanggapi dipublikasikannya nama Assaf, pihak keluarga menyatakan kekecewaan mereka. Mereka menilai bahwa selama lebih dari dua tahun, Assaf telah digambarkan bukan lagi sebagai perwira Israel yang patriotik, menjunjung nilai-nilai, dan berdedikasi, melainkan sebagai mata-mata dan pengkhianat.
Menurut keluarga, dakwaan terhadap Assaf tidak sebanding dan tidak memiliki keterkaitan langsung dengan temuan investigasi yang dilakukan oleh IDF, Shin Bet, dan kepolisian. Mereka menegaskan bahwa jika pun ada pelanggaran, paling jauh itu merupakan pelanggaran keamanan informasi yang seharusnya diselesaikan melalui mekanisme disipliner militer. Keluarga menyebut kasus ini sebagai contoh penegakan hukum yang selektif.
Hingga kini, proses persidangan Shmuelevitz masih berlangsung, dan ia dilaporkan menjalani penahanan dalam perawatan paksa.
Assaf Shmuelevitz digambarkan sebagai sosok yang sulit dibayangkan dalam persepsi publik Israel: seorang pengacara Israel sekaligus mantan prajurit pasukan lintas udara, yang dituduh menyusup ke pusat komando militer Israel dengan menyamar sebagai perwira cadangan IDF.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pada 7 Oktober 2023—hari terjadinya serangan Hamas yang mengguncang Israel—Shmuelevitz mendatangi Markas Komando Selatan IDF yang saat itu berada dalam kondisi darurat luar biasa. Ia mengaku sebagai kapten cadangan, meskipun tidak pernah menerima penugasan resmi.
Situasi chaos pada hari tersebut disebut menjadi celah utama. Selama kurang lebih satu pekan, Shmuelevitz diduga berhasil mengakses area-area paling sensitif, termasuk ruang operasi bawah tanah, forum diskusi strategis tingkat tinggi, hingga rapat penilaian keamanan yang bahkan dihadiri Menteri Pertahanan Yoav Gallant—di mana ia sempat terekam dalam foto.
Ia dituduh merekam percakapan rahasia, mencatat informasi strategis, dan mengirimkan data tersebut ke Iran. Apabila tuduhan ini terbukti sepenuhnya, kasus ini berpotensi menjadi salah satu kegagalan kontra-intelijen paling memalukan dalam sejarah Israel modern.
Otoritas Israel menempatkan kasus Shmuelevitz sebagai bagian dari lonjakan aktivitas spionase yang dikaitkan dengan Iran sejak akhir 2024 hingga awal 2026.
Sejumlah kasus lain kerap disebut sebagai penguat narasi tersebut, antara lain:
Vadim Kurriyanov, yang ditangkap karena diduga memotret rumah mantan Perdana Menteri Naftali Bennett atas perintah Iran.
Seorang prajurit Brigade Givati yang dituduh menjual foto pangkalan militer dan sistem persenjataan kepada Iran demi imbalan finansial.
Mordechai (Moti) Maman, pebisnis berusia 73 tahun asal Ashkelon, yang dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena dituduh terlibat dalam rencana pembunuhan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Gallant, dan Kepala Shin Bet Ronen Bar.
Kasus terakhir menjadi sorotan tajam karena, menurut versi otoritas Israel, rencana tersebut disebut sebagai aksi balasan Iran atas kematian Ismail Haniyeh di Teheran pada Juli 2024—sebuah peristiwa yang sangat kontroversial dan tidak pernah diakui secara resmi oleh Israel.
Jika ditarik ke level geopolitik, kasus ini menyampaikan sejumlah pesan penting. Israel tengah menghadapi tekanan keamanan internal yang terbuka dan serius. Fakta bahwa warga negaranya sendiri—termasuk mantan tentara—disebut terlibat dalam aktivitas spionase menunjukkan adanya erosi kepercayaan internal di tengah konflik berkepanjangan.
Konflik Israel–Iran tidak lagi terbatas pada medan eksternal seperti Suriah, Lebanon, atau wilayah laut, melainkan telah merambah ke ruang domestik masing-masing negara.
Narasi mengenai “Iran sebagai dalang” juga memiliki fungsi politik domestik, yakni memperkuat legitimasi kebijakan keamanan yang semakin ketat, membenarkan perluasan kewenangan aparat intelijen, serta mengalihkan fokus publik dari kegagalan struktural IDF pada 7 Oktober.
Perlu digarisbawahi bahwa hingga saat ini, sebagian besar informasi mengenai kasus ini bersumber dari aparat keamanan Israel dan media nasionalnya. Publik internasional belum memiliki akses terhadap bukti independen, transkrip pengadilan lengkap, maupun verifikasi dari pihak ketiga.
Dalam konteks peperangan, kasus spionase kerap pula menjadi instrumen perang narasi. Artinya, informasi ini tidak bisa langsung diterima sebagai kebenaran mutlak, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya diabaikan.
Apabila terbukti, kasus Assaf Shmuelevitz akan menjadi simbol fase baru konflik Israel–Iran, di mana batas antara medan tempur, dunia intelijen, dan ranah sipil semakin kabur. Ia juga menunjukkan bahwa bahkan negara dengan sistem keamanan yang tampak paling tertutup dan disiplin pun tetap rentan dari dalam, terutama ketika krisis besar membuka celah keamanan.
Lebih luas lagi, kisah ini mencerminkan dunia yang bergerak menuju bentuk perang tanpa deklarasi, tanpa garis depan yang jelas, dan tanpa kepastian mengenai siapa musuh sebenarnya.
Dalam konflik modern, khususnya konflik asimetris seperti Israel–Iran, informasi bukan sekadar alat pelaporan, melainkan senjata. Oleh karena itu, kasus Assaf Shmuelevitz perlu dibaca dalam dua lapisan sekaligus: sebagai peristiwa keamanan yang mungkin nyata, dan sebagai bagian dari operasi perang persepsi (psy-ops). Keduanya tidak saling meniadakan.
Pengumuman kasus ini dilakukan pada Januari 2026, saat Israel masih dibayangi trauma nasional pasca-7 Oktober, kritik keras terhadap kegagalan intelijen IDF, tekanan internasional terkait Gaza, serta delegitimasi politik terhadap pemerintahan Netanyahu.
Dalam doktrin psy-ops, krisis adalah momen strategis untuk membentuk ulang narasi publik. Dengan mengangkat cerita infiltrasi Iran dari dalam negeri, fokus publik bergeser dari kegagalan struktural dan kepemimpinan menjadi narasi ancaman eksternal yang kompleks.
Profil Shmuelevitz—warga Israel, mantan prajurit elit, berpendidikan tinggi, menyusup hingga pusat komando—sangat efektif secara psikologis. Pesan yang dibangun adalah bahwa tidak ada yang sepenuhnya aman, bahkan figur yang tampak paling patriotik sekalipun.
Narasi semacam ini berfungsi untuk membenarkan perluasan pengawasan internal, menekan kritik, serta meningkatkan kepatuhan publik terhadap negara keamanan.
Dalam hampir seluruh kasus spionase yang diungkap, Iran selalu ditampilkan sebagai aktor utama. Secara geopolitik, ini berfungsi ganda: secara eksternal untuk mempertahankan dukungan Barat, dan secara internal untuk menanamkan mentalitas kepungan di masyarakat.
Ciri khas propaganda keamanan terlihat jelas: arus informasi satu arah, minim bukti terbuka, proses hukum tertutup, dan dominasi narasi oleh aparat keamanan. Hingga kini, tidak ada bukti komunikasi dengan Iran yang dirilis ke publik, tidak ada rekaman yang dipublikasikan, serta belum ada verifikasi independen internasional.
Jika mengandung unsur psy-ops, tujuan utamanya bukan semata penegakan hukum, melainkan dampak psikologis kolektif: masyarakat menjadi lebih takut dan patuh, militer semakin tertutup, dan oposisi bersikap lebih hati-hati.
Bahkan jika sebagian tuduhan dilebih-lebihkan, efek psikologisnya tetap bekerja—baik terhadap publik domestik maupun pihak lawan eksternal.
Namun, operasi psy-ops selalu membawa risiko. Jika kelak dakwaan melemah di pengadilan, atau muncul bukti manipulasi, maka yang terancam runtuh bukan hanya kasus ini, tetapi juga kepercayaan publik terhadap institusi keamanan.
Sejarah Israel pasca-Perang Yom Kippur 1973 menunjukkan bahwa psy-ops yang berlebihan dapat berujung pada delegitimasi.
Kasus Assaf Shmuelevitz bisa jadi nyata, tetapi juga sangat mungkin dibingkai secara strategis. Dalam geopolitik modern, fakta dan propaganda sering berjalan beriringan.
Sikap paling rasional bukan menerima mentah-mentah, juga bukan menolak sepenuhnya, melainkan membaca dengan dua sudut pandang: satu mata pada fakta yang mungkin ada, dan satu mata lagi pada kepentingan politik yang sedang bekerja. ***
Satrio Arismunandar,
alumnus S2 Pengkajian Ketahanan Nasional UI dan S3 Filsafat FIB UI, Pemimpin Redaksi OrbitIndonesia.com dan Majalah Pertahanan/Geopolitik ARMORY REBORN, serta Ketua Dewan Pakar SCSC (South China Sea Council).
BEKASI – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto meninjau langsung kondisi…
JAKARTA – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membantah isu yang…
ABU DHABI – Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Persatuan…